SuluhPenyuluh--Penuyuluh Agama Islam ikut serta mensukseskan program ekoteologi Kementerian Agama RI menyerahan bibit pohon kepada Majlis Taklim “ Hubbul Wathon “ di Masjid Al-Aqso Kel. Kalibening Kec. Tingkir Kota Salatiga pada Selasa (20/5/2025). Mayoritas jama’ah majlis taklim tersebut adalah pemuda, pengajian rutin dilaksanakan secara lapanan, dimulai seletah sholat Isya’ mujahdah dan kemudian pengajian kitab Safinatun Najah.
Ekoteologi adalah sebuah area teologi yang mengeksplorasi hubungan antara agama dan lingkungan. Ekoteologi berusaha memahami konsep-konsep teologis dan berbagai praktik keagamaan serta kontribusinya terhadap keberlangsungan lingkungan hidup. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan kesadaran lingkungan.
Sejalan dengan itu, Penguatan Ekoteologi telah ditetapkan sebagai salah satu program prioritas Kementerian Agama periode 2025–2029, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 244 Tahun 2025. Keputusan Menteri Agama ini menegaskan bahwa Penguatan Ekoteologi telah menjadi sebuah kebijakan penting, sehingga semua ASN wajib mengimplementasikan dalam bentuk program kerja maupun setiap tindakan dan perilaku sehari-hari.
Sebagai insan beriman dan manusia religius eloknya agama bukan hanya dipahami sebagai urusan langit dan hanya untuk menggapai kebahagiaan di hari kemudian saja, tetapi juga sebagai urusan bumi yang memberikan kebaikan dan kebahagiaan kini, sehingga kehadiran "Ekoteologi" adalah pilihan tepat untuk menyelamatkan kehidupan, sebagaimana dalam untaian do'a "Robbana atina fid dunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adzaban nar" (Ya Tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka), yakni karena tidak baik dan tidak paham dalam mengatur alam menimbulkan kenistaan dan kesengsaraan dalam kehidupan yang dalam sesanti Jawa, "Memayu hayuning bawana" (memperindah dunia) atau upaya memperindah dunia dengan keramahan lingkungannya.
Ekoteologi atau ecotheology adalah konsep beragama yang mendekatkan penganutnya dengan alam lingkungan dengan maksud untuk lebih memahami hubungan positif timbal balik. Maka, dalam hal ini ada yang menyebut dengan teologi lingkungan. Dalam penjelasan singkat hubungan teologi dan ekologi adalah karena alam lingkungan ini ciptaan Tuhan maka dengan merusak dan mengabaikan alam lingkungan berarti satu bentuk ketidakpatuhan terhadap perintah Tuhan.
Dalam ajaran Islam, mengenal adanya tiga hubungan, "Hablun minallah, hablun minannas, hablun minal alam", (hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan manusia, hubungan dengan alam). Ringkasnya, sebagai muslim yang baik maka harus menyadari dirinya adalah seorang abdi (hamba) yang lemah maka harus ibadah dengan baik sebagai bentuk pengabdian pada Penciptanya Lalu, manusia sebagai makhluk ciptaan harus menjalin hubungan yang baik antar sesamanya sehingga terbangun kesalehan sosial sebagai cara untuk meraih hidup bersama yang bermarwah dan sejahtera Selanjutnya, karena manusia adalah bagian dari alam semesta maka wajib untuk menjaga hubungan baik dengan alam lingkungannya, bahkan dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 30, "Inni jailun fil ardhi khalifah” (Sesungguhnya Aku menjadikan manusia sebagai khalifah, sebagaimana dalam pesan luhur Jawa, "Mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi" (Mencerahkan budi, menghilangkan perusak bumi).
Akhirnya , harus diakui ekoteologi benar-benar akan menjadi harapan untuk penyelamatan alam lingkungan dan kelangsungan hidup maslahah dan berkeadaban di tengah kemajemukan umat manusia yang berketuhanan. Sselain itu, juga cara inilah yang kiranya dapat mengurangi keserakahan para penghuni bumi ini yang terus menerus mengeksploitasinya tanpa perhitungan dan pertimbangan sehingga merusak kehidupan sebagai efek dari disharmoni manusia dengan alam lingkungan. (MN)






0 comments:
Posting Komentar